0

Enam Tahun Inggris di Indonesia

LebihViral.com – Enam Tahun Inggris di Indonesia. Tempat yang terlihat bersih dan terawat ini, dulunya sangat kotor, bau dan menjadi sarang malaria. Kawasan ini terletak di Jakarta—dulunya bernama Batavia. Kawasan ini punya nilai sejarah. Banyak bangunan bekas penjajah disana. Sebagian besar dijadikan tempat wisata dan belajar sejarah.

 

Bicara soal sejarah, Indonesia pernah dijajah Inggris selama Enam tahun, di bawah kekuasaan Thomas Stamford Raffles. Indonesia mengalami kekejaman yang amat sangat.  Tak hanya menguras kekayaan Indonesia, Inggris juga menghancurkan kerajaan-kerajaan di Indonesia, khususnya di Jawa.

 

Inggris melakukan invasi ke Jawa tahun 1811 hingga 1816. Saat itu Indonesia sedang dijajah Belanda. Berbagai siasat dilakukan Raffles untuk mengusir Belanda dari Jawa. Mempropaganda kerajaan di Jawa, hingga Belanda berhasil ditaklukan.

Enam Tahun Inggris di Indonesia

Thomas Stamford Raffles, anak pertama dari enam bersaudara ini. Lahir 6 Juli 1781 di atas kapal budak bernama Ann. Ayahnya kapten di kapal itu. Saat berusia 14 tahun, sekolah formalnya terhenti, disebabkan bekerja di perusahaan Hindia Timur Inggris sebagai juru tulis senior.

 

Raffles seorang pekerja yang giat. Ia bisa menyelesaikan tugasnya dalam waktu singkat sehingga menjadi karyawan kesayangan atasan. Pada 1805, ia diberangkatkan ke pos pemerintahan di Asia Tenggara. Berkantor di pos terdepan Inggris yang baru saja diperbaharui di pantai Malaya dekat pusat Selat Malaka. hingga 1811, ia ditunjuk sebagai Letnan Gubenur di Batavia. Ia selalu memenangkan pertarungan. Walaupun ia dikenal memalukan di akhir kejayaannya.

 

Detail perjalanan hidup Raffles dan bagaimana ia memimpin selama di Indonesia diceritakan dalam buku Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Buku yang ditulis oleh Tim Hannigan ini, diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Bima Sudiarto. Buku ini terdiri dari sepuluh bab

Bab pertama berjudul Tanah Harapan. Mengisahkan tentang Batavia. Batavia dulu merupakan sebuah daerah yang sangat kotor, bau dan penuh penyakit. Tetapi tetap menjadi incaran Inggris saat itu. Mereka tetap berusaha merebutnya dari Belanda yang saat itu berkuasa.

Enam Tahun Inggris di Indonesia

Bab dua, Helaan Pertama di Timur. Mengisahkan tentang perjalanan hidup Raffles. Hingga pada 4 Agustus 1811 Raffles beserta rekannya Lord Minto dan Leyden, pertama kali menginjakan kaki di Jawa.

 

Bab tiga tentang Kemenangan Gemilang. Pasukan Inggris dibawah komando Gillespie berhasil menaklukan pasukan bertahan Belanda di Cornelis. Tapi Raffles harus menerima kenyataan, rekannya Leyden meninggal dalam penaklukan ini. Raffles mulai ketakutan. Ia sendirian mewujudkan visinya untuk Inggris di Jawa. Apalagi saat itu pengetahuan ia terbatas mengenai Jawa.

 

Bab empat, Seribu Pertanyaan Kecil. Kali ini penulis membawa pembaca ke Mataram. Bab ini menceritakan terbentuk hingga terpecahnya kerajaan Mataram.  Inggris selalu ikut campur soal kedudukan Raja Mataram. Kelak yang menjadi raja bisa patuh pada keinginan Inggris. Raffles merupakan orang yang sangat egois. Ia tidak menyukai orang yang tidak mau mengikuti rencananya. Raffles kembali melakukan propaganda anti Belanda, hingga posisi Belanda terancam di Mataram.

 

Bab lima, kita berlayar ke Pulau Sumatera Palembang, dengan judul Pusat Kegelapan. Raffles terus mengembangkan kekuasaannya. Raffles terus menyusun siasat mengusir Belanda dari pulau ini. Usahanya berhasil. Sultan Badaruddin—Raja Palembang percaya dengan Raffles. Palembang dan Bangka Belitung begitu ingin dikuasai Raffles. Ia ingin menguasi tambang timah. Hingga mati-matian meyakinkan raja.

 

Selanjutnya penulis mengajak kita ke Yogyakarta. Tak sampai satu tahun, Raffles berhasil melakukan invasi. Cerita ini disajikan di bab enam berjudul, Tanah Kemenangan Baru.

Capek berkeliling, di bab tujuh kita tak lagi bercerita tentang kehebatan Raffles menaklukan setiap daerah di Indonesia. Di bab ini, penulis menceritakan siasat Raffles menaklukan sejarah Jawa. Serta menobatkan dirinya sendiri sebagai kaisar masa lalu legendaris Jawa.

 

Bab delapan berjudul Kerbau dan Harimau. Raffles mulai dihantam badai. Berbagai masalah bahkan tuduhan datang padanya. Tuduhan itu datang dari rekannya yang juga berkebangsaan Inggris, Mayor Robinson dan Gillespie.

 

Perpecahan ini menyebabkan perlahan masa peralihan Inggris tenggelam. Jawa tidak lagi dianggap sebagai tanah harapan.

 

Raffles mulai kehilangan orang-orang terdekatnya. Satu persatu dari mereka meninggal dunia, termasuk istrinya sendiri. Masa-masa kelam ini di rangkum di bab sembilan berjudul, Pemberontakan dan Mangga. Kesedihan mendalam dirasakan Raffles.

 

Tak hanya itu, alam juga mulai tak bersahabat. Gunung Tambora meletus. Letusan gunung api terbesar sepanjang sejarah. Raffles mulai menderita sakit parah. Jawa direbut kembali oleh Belanda dan Raffles terpaksa hengkang dalam keadaan sakit.

 

Di bab terakhir, Ratu Adil dan Epilog. Raffles kembali ke asalnya. Sempat kembali ke Indonesia tepatnya di Bengkulu. Tapi tak berlangsung lama. Pada 1824 ia kembali ke Inggris untuk selamanya. Kepulangannya tak disambut baik. Bahkan tak diiringi sambutan bak seorang pahlawan. Ia dianggap melakukan banyak pelanggaran. Hingga akhir hayat, jasanya tak dianggap di negaranya sendiri.

 

Buku ini berawal dari kegelisahan penulis. Saat mengajar di Indonesia, penulis sering mendengar pernyataan orang Indonesia yang janggal dan aneh menurutnya. “Mungkin lebih baik kalau kita dulu dijajah Inggris, bukan Belanda.” Begitu ucapan yang kerap ia dengar dari muridnya, para pedagang, pebisnis, dukun bahkan penyanyi.

 

Keanehan ini mendorongnya mencari tahu lebih dalam tentang sejarah Indonesia, terutama jejak kekuasaan Inggris. Buku ini meraih Jhon Brooks Award 2013, kategori nonfiksi sejarah.

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *